chapter : 2
cast :
-Yoona SNSD as Yoona (in this fanfic, she's not one of SNSD's member. she's just an ordinary girl,,^^)
-TVXQ's member as themshelf
-someone as jihoo (read it, and you'll know who someone is...)


***
“ada kabar darinya?
“belum… yunho tolong bereskan meja makan di depanmu itu”
“hmm”
“hyung… jangan mempermainkanku… pasti ada kabar darinya kan?”
“belum… yunho!! Tutup bukumu, dan tolong bereskan meja makan itu!!!”
“hmm”
“aaa.. lalu dimana dia sekarang?? Sejak pergi semalam, dia belum juga pulang. Ah, hyung… benarkah dia belum menghubungimu? Belum meneleponmu? Sungguh?”
“Yoochun, berapa kali lagi harus aku bilang, dia belum menghubungiku!! Dan kau yunho!! Abaikan perintahku sekali lagi, dan takkan ada makan malam untukmu!!!”
“aaaa… oemma, aku laksanakan!!!aku laksanakan!!!!” yunho merenggut kesal, lalu berdiri, membereskan meja makan di hadapannya.
Jaejoong memandang Yunho yang dengan enggan membereskan meja makan. “Haaa… bayangkan perasaan para cassie jika tahu leader yang mereka puja itu seperti anak kecil begini… tcihhh”
Yunho berhenti membereskan meja dan menatap Jaejoong dengan polos. “heey, kalau mereka tahu, tentu mereka akan semakin suka padaku. Mereka akan menganggap aku seorang leader yang cute, kau tahu itu…”
“tcihhh…”, Jaejoong mendengus. Baru saja dia akan membalas perkataan Yunho, Yoochun memotongnya. “kalian… apa benar tidak khawatir padanya?”
Yunho menatap Yoochun. “bukannya aku tidak khawatir dengan istrimu itu…”
“nne… dia hewan peliharanku”
“ya, hewan peliharaan yang kau cintai dan kau nikahi”, Yunho tertawa kecil lalu melanjutkan bicaranya “aku rasa dia sedang ada bersama Junho… kau tahu, apapun yang dia rasakan akan selalu dia sampaikan pada Junho. Jadi, aku yakin dia bersama Jun…”
“aneh”
Changmin tiba-tiba datang dan memotong perkataan Yunho. “aneh sekali”. Changmin menatap Yunho. “Kau tahu hyung? Baru saja Junho hyung meneleponku untuk menanyakan dimana Junsu hyung berada… aneh bukan? Bukankah biasanya Junho hyung-lah yang selalu tahu keberadaan lumba-lumba itu”
Yunho terdiam lalu memandang Yoochun dan Jaejoong yang wajahnya berubah gelisah. “aku akan mencarinya sekarang. Yoochun, kau dan changmin carilah dia ke tempat-tempat dimana dia biasa menghabiskan waktu. Dan kau Jaejoong, tunggulah di sini… mungkin saja dia tiba-tiba pulang ketika kami mencarinya”
Yoochun dan Jaejoong mengangguk setuju. Hanya changmin yang masih berdiri dengan wajah bingung. “tu..tunggu hyung… apa yang belum kalian ceritakan padaku? Memangnya ada apa dengan lumba-lumba itu?”
“sudah, ikut saja denganku”, Yoochun menarik tangan changmin dengan kuat.
“tu..tunggu hyung…a..ada apa?”
“sudahlah, cepat. aku merasa ada hal yang buruk terjadi padanya”
Changmin diam dan mengangguk cepat. tak ada yang perlu dipertanyakan lagi. Apapun hal yang belum diketahuinya, dia tak peduli. Yang jelas, wajah ketiga hyungnya menunjukan bahwa ada sesuatu hal yang buruk yang akan terjadi pada lumba-lumba itu jika dia tak segera menemukannya.
“hyung, ayo berangkat, aku siap”
***
Changmin berjalan cepat menyusuri jalan setapak itu. Beberapa langkah lagi di depannya, sebuah lapangan sepak bola luas terhampar. Changmin menyipitkan mata dan memandang sekelilingnya. Sepi. changmin memutar badan ke arah pohon besar di belakangnya. Juga sepi.
Changmin menghela nafas. “kau juga tidak ada di sini rupanya…”
Sudah hampir malam, dan Junsu belum juga ditemukan. Changmin yang awalnya mencari bersama dengan Yoochun akhirnya memutuskan berpencar. Dan ke tempat inilah changmin akhirnya pergi, tempat terakhir yang dia harap dia kunjungi malam ini.
“hyung… aku benar-benar berharap kau ada di sini”
Changmin berjalan gontai kea rah pohon besar di belakangnya, lalu merebahkan diri, bersandar pada batang pohon itu.
Tiba-tiba tawa kecilnya keluar. Kenangannya bersama Junsu tergambar begitu jelas di ingatannya. Di tempat itu pula biasanya dia dan Junsu bersitirahat setelah seharian bermain bola. Tentu Junsu memaksa dan mengancamnya, hingga changmin akhirnya harus rela menemani lumba-lumba itu bermain. Dan saat-saat istirahat seperti itu adalah saat yang tepat untuk changmin membals dendam.
Changmin tertawa.
Biasanya, junsu yang kelelahan akan langsung berbaring di bawah pohon itu. Lalu dengan seenaknya berteriak pada changmin, menyuruh adik kecilnya itu mengambilkan air untuknya. Changmin menurut saja. Dia berdiri, mengambil air minum, lalu… byuurrr, menumpahkan air itu tepat di atas kepala Junsu.
Hal yang bisa diingat changmin berikutnya hanyalah rasa sesak dan sakit. Karena setelah itu Junsu pasti menindih lalu mencekiknya sambil menggerutu kesal.
“aaa.. hyung, dimana lagi aku harus mencarimu… “
Changmin menundukkan kepalanya. “pulanglah hyung… sekalipun kau pulang untuk memukul atau mencekikku…”
***
Yoochun merapatkan jaket dan memakai kacamata hitamnya. Dengan jaket tebal, topi, dan kacamata seperti itu, dia berharap dia dapat bebas berkeliaran tanpa ada stalker yang mmbuntutinya.
Yoochun berjalan pelan, dan berhenti tepat di depan pintu. Dia memandang ke dalam ruangan. Benar-benar ramai dan penuh orang. Tapi sepertinya aman, semua orang sibuk dengan layar di depannya.
“kuharap kau ada di sini, baby…”
Sebenarnya Yoochun tak terlalu yakin dapat menemukan Junsu di tempat itu. Junsu pergi hanya dengan memakai kaus dan jeans. Tidak ada topi, masker, atau kacamata hitam untuk melindunginya dari kejaran fans. Tapi mungkin saja…
“segala kemungkinan harus aku coba”, Yoochun berjalan masuk. “kuharap pencarianku kali ini tak sia-sia…”
Yoochun berjalan dengan sangat pelan di antara kursi yang berjejer panjang dan punggung-punggung yang membelakanginya, menghadap ke layar komputer yang menampilkan bermacam games.
Ya, ini adalah tempat di mana para gamers berkumpul. Tempat games online. Tempat yang selalu Junsu anggap sebagai surga dunia.
Yoochun melempar pandangan ke sekelilingnya, memelototi setiap kepala di depannya dengan cermat. Berulang-ulang dia berjalan mengelilingi tempat itu. Tapi nihil. Junsu tak terlihat sama sekali.
Yoochun menyerah. Dia berdiri dan bersandar pada tembok dekat pintu. Dia menjulurkan kepala ke luar. “aaaahhh… di dalam begitu penuh. Aku butuh udaraaa…aahhhhh”
Gerah, dia menyibakkan jaket, tanpa sadar membuka topinya, dan…
“sudah kubilang itu yoochun oppa!!!”
“eh?” Yoochun tersentak kaget. Refleks menoleh kea rah sumber suara yang menyebut namanya begitu keras. Suara seorang wanita.
“Yoochun oppa!!! Yoochun oppa!!!!”
Di sana, di tempat suara itu berasal, seorang wanita menunjuk ke arahnya sambil tersenyum lebar. Dan di belakangnya, bermacam ekspresi terlihat jelas. Ada wanita yang menutup mulutnya karena kaget, mengerjap-ngerjapkan mata, bahkan menutup muka menahan tangis. Tapi beberapa detik kemudian semuanya melakukan hal yang sama. Meneriakkan namanya.
“yoochun oppaaaaaa…!!! Sarangheyooooo!!!!!!”
***
Jaejoong sedang memandang keluar jendela dengan gelisah, ketika tiba-tiba pintu terbuka. Jaejoong menoleh. Changmin berdiri di pintu sambil menatap penuh harap ke arahnya.
“dia sudah pulang?”
Jaejoong menggeleng. “belum. Dan tak satupun pesanku yang dibalasnya”
“kau sudah meneleponnya?”
Jaejoong mengangguk. “berkali-kali. Tersambung, tapi tidak pernah diangkat”
“aahhh… kemana sih dia ini?” changmin merebahkan badannya di sofa, lalu mengusap wajahnya yang penuh keringat. “oemmaa… aku lelah”
“biar kuambilkan minum untukmu”. Jaejoong berdiri dan berjalan ke arah dapur.
“tadi Junho menghubungiku, menanyakan apakah Junsu sudah pulang atau belum”, Jaejoong berteriak dari dapur.
“lalu apa yang kau katakan padanya?”
Jaejoong berjalan mendekati changmin dengan sebotol air mineral di tangannya. “aku bilang yang sejujurnya. Tapi aku minta agar dia tidak terlalu khawatir karena kita sedang mencarinya di sini. Aku juga memintanya untuk tidak memberitahu ayah dan ibunya… aku tidak mau mereka cemas”
Changmin mengangguk tanda setuju dengan apa yang telah dilakukan Jaejoong dan menghabiskan setengah botol air mineral dengan cepat. “Masih ada harapan. Semoga Yoochun hyung dan Yunho hyung segera datang sambil menyeret lumba-lumba itu pulang”
“harapan tinggal pada Yunho hyung”
Changmin dan Jaejoong menoleh bersamaan ke arah sumber suara. Di pintu, Yoochun berdiri dengan nafas terengah.
“kenapa kau? Dikejar hantu?”
“haaa… hantu-hantu cantik, lebih tepatnya”, Yoochun tersenyum kecut. “lima puluh orang” Yoohun mengangkat lima jarinya “sekitar lima puluh orang telah beruntung mendapatkan tanda tangan gratis dariku hari ini… aarrrhh, lelah sekali rasanya”
Changmin tertawa keras mendengarnya. Sementara Jaejoong hanya tersenyum lebar sambil menepuk-nepuk pundak Yoochun.
Drrrtttt.
Jaejoong membuka handphone-nya. Sebuah pesan masuk.
08:00 pm
Yunho
Datanglah ke SM sekarang.
Rapat mendadak. Penting.
Tentang Junsu kita.
***

karakter jejenya masuk bgt *sok komentator*
BalasHapusceritanya yuchun suka junsu tuh?
yoochun.. sukanya ma author *ngarep*
BalasHapusheuheuu,,
yoochun suka ma junsu?? nggak juga sih,, cuman biasa, gara2 yoosu lover, jadinya gatel klo nggak masukkin yoosu moment,, :))