chapter : 3
cast :
-Yoona SNSD as Yoona (in this fanfic, she's not one of SNSD's member. she's just an ordinary girl,,^^)
-TVXQ's member as themshelf
-someone as jihoo (read it, and you'll know who someone is...)
***
(Yoona POV)
Aku sungguh tak menyangka keberuntungan ini akan datang padaku. Sungguh. Aku tahu, ini memang akan terjadi… tapi aku tak menyangka akan secepat ini.
Aku memandang wajah yang terpantul pada cermin di hadapanku. Wajahku. Sungguh berbeda dengan beberapa waktu yang lalu. Wajah yang terpantul itu kini terlihat begitu bahagia. Dan senyumku… bukannya aku memuji diriku sendiri, tapi sungguh… begitu manis.
Ah, aku bahagia. Benar-benar bahagia.
Aku menjulurkan tanganku ke atas lemari, mencari-cari jepit rambut itu. Dan, ketemu!!! Tapi uh, kotor sekali. Warna putihnya memudar, tertutup oleh debu. Aku menyesal menyembunyikannya di sana…
Tapi, jepit rambut ini tetap cantik. Putih, warna kesukaanku. Maksudku, warna kesukaanku beberapa waktu ini, setelah dia memberikan jepit ini padaku dan mengatakan kalimat yang begitu manis… “warna putih ini, melambangkan putihnya kulitmu, cantiknya wajahmu, dan tulusnya hatimu…”
Kutiup debu dari jepit itu, lalu kupasang di rambutku. Manis sekali.
“ah, dia pasti menyukainya”, aku mengusap halus rambutku. “ini sempurna…”
Kulangkahkan kakiku dengan riang kea rah pintu kamar dan membukanya. Dari sini aku dapat melihat dia. Dia yang sedang duduk sambil memandang hamparan bunga di luar jendela.
“oppa…”
Dia menoleh.
“bagaimana?”, aku menunjuk jepit di atas kepalaku.
“manis” Senyum ringan mengembang di wajahnya. “manis sekali Yoona…”
Aku membalas senyumannya.
“Jihoo oppa… terima kasih”
***
“hati-hati…” Yoona melingkarkan tangan di lengan Jihoo. “Sudah kubilang, lebih baik kita diam saja di rumah. Aku takut kau belum terlalu kuat berjalan jauh…”
“aku tidak apa-apa”, Jihoo tersenyum. “lagipula, ada kau yang menjagaku, iya kan?”
Wajah Yoona memerah.
“kau… manis sekali saat wajahmu memerah seperti itu”, Jihoo tertawa kecil.
“aa..oppa… sudah” Yoona menundukkan wajahnya yang semakin merah.
Jihoo menuntun Yoona ke sebuah bangku taman, dan mereka berdua duduk di situ. Memandang kebun bungan yang terhampar luas di depan mereka.
“udara di sini segar sekali…”
Yoona mengangguk. “iya… kau suka oppa?”
“sukaaaa sekali…” Jihoo menghirup nafasnya, dalam.
“kalau begitu, kita tinggal di sini untuk selamanya oppa…”
Jihoo tertegun. Tinggal di sini selamanya, bersama Yoona. Tentu hal ini akan sangat membahagiakan untuknya. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal…
“oppa?” Yoona menatap wajah Jihoo dengan bingung. “ada apa? kau melamun?”
“eh, tidak…” Jihoo menggeleng pelan. “tidak… aku tidak apa-apa”. Jihoo tersenyum, lalu mengusap lembut kepala Yoona.
“kita akan tinggal di sini selamanya oppa”, Yoona mengulang kata-katanya. “kau pasti bahagia…”
Jihoo diam. Harusnya dia dengan lantang dan yakin mengatakan ‘ya!’ untuk ajakan Yoona itu. Harusnya dia tertawa senang. harusnya dia tersenyum lebar. Tapi bahkan untuk mengangguk pelan pun dia tidak bisa. Ada sesuatu yang mengganjal…
“oppa…”
“em?”
“aku…”
“em?”
“aku…”
“…”
“aku mencintaimu”
***
(Yoona POV)
Mungkin ini saat yang tepat untuk mengatakannya… biar kucoba lagi…
“oppa…”
Aduh, jantungku berdetak begitu kencang…
“em?”
“aku…”
Aahhh… aku benar-benar gugup. Lebih gugup dari yang telah lalu itu…
“em?”
“aku…”
“…”
“aku mencintaimu”
Dan aku mengatakannya. Aku memejamkan mata. Jantungku benar-benar berdegup kencang. Apa yang akan dikatakannya kali ini? Apa dia akan membalas perasaanku? Apa aku akan berhasil mendapatkan hatinya? Atau aku akan merasa sakit seperti yang telah lalu itu?
Aahh, dia mengusap lembut rambutku, membuat jantungku berdegup lebih kencang. Tuhan…
“Yoona, aku…”
Aku memberanikan diri menatap matanya yang polos itu.
“aku…”
***
(Jihoo POV)
“oppa…”
“em?”
“aku…”
“em?”
“aku…”
“…”
“aku mencintaimu”
Eh?
Dia mencintaiku. Tentu saja. Dan aku pasti mencintainya… jika tidak, bagaimana mungkin aku dan dia adalah sepasang kekasih? Kalimat yang bodoh Yoona, benar-benar bodoh…
Aku mengelus lembut rambutnya. Dia memejamkan matanya. Kenapa dia? Aaahh, dia pasti malu. Yoona-ku sungguh manis.
“Yoona, aku…”
Yoona menengadahkan wajahnya, menatapku dengan mata bulatnya. Aku akan mengatakan bahwa aku mencintainya. Itu mudah.
“aku…”
aa..Aishhh, apa yang terjadi padaku? kenapa rasanya lidahku kaku? Aku mencintainya. Aku hanya tinggal mengatakan bahwa aku mencintainya.
“aku… mencintaimu”
Aku mengatakannya dengan cepat dan melemparkan pandanganku kea rah hamparan bungan di depanku.
Kenapa… rasanya begitu menakutkan untuk mengatakan hal ini padanya?
***
(Yoona POV)
“aku… mencintaimu”
Kalimat itu terdengar begitu lembut di telingaku, dan membuatku begitu nyaman. Ini adalah sebuah mimpi indah yang menjadi kenyataan untukku. Hatiku bergetar dan aku benar-benar merasa bahagia. Ini adalah kalimat yang telah sejak lama kutunggu untuk keluar dari mulutmu oppa…
Aku mendekatkan bibirku ke telinganya dan berbisik lembut.
“terima kasih oppa… terima kasih”
Kupikir, jalan yang kuambil telah benar. Ini memang benar-benar jalan yang terbaik untukku dan oppa. Aku bahagia, dan oppa pasti merasakan hal yang sama untukku.
Jadi, tak mungkin ada penyesalan karena aku telah mengambil jalan ini. Ini… jalan yang terbaik.
***
Bruukk!!! Yoochun memukul meja. “sial. Memangnya apa sih yang dia pikirkan???!!!!aaargghhhh!!” dia menutup mukanya, frustasi. Di depannya, changmin tertegun, bingung. Sementara Jaejoong masih menatap tulisan di layar handphone yag dipegangnya itu dengan tatapan tak percaya.
Sebuah pesan.
09:00 pm
Junsu
Maafkan aku hyung.
Aku tak bisa lagi menjadi
salah satu dari member
DBSK. Aku putuskan untuk
mengundurkan diri. Maaf, dan
tolong jangan hubungi aku lagi.
Ini keputusan terbaik yang harus
aku ambil.
---
Berulang kali Jaejoong membaca pesan itu, berharap ada yang salah dengan pesan itu atau mungkin dengan matanya. Tapi berapa kali pun dia membacanya, pesan itu tetap di sana, dan dengan jelas mengatakan bahwa kini DBSK hanya memiliki empat member, tanpa seorang Kim Junsu di dalamnya.
Jaejoong menaruh handphone itu di atas meja, kemudian mengusap wajahnya yang tampak begitu pucat, bingung dan lelah. Entah apa yang harus dia dan member lain lakukan saat ini. Dia tak bisa berpikir jernih. Sosok Junsu malah memenuhi pikirannya. Junsu yang periang, angel smile, dolphin… Junsu si gagman itu… Jaejoong mengusap-usap lagi mukanya dengan kasar. Dia benar-benar tak dapat membayangkan apa jadinya DBSK tanpa sosok Junsu di dalamnya.
Tiba-tiba pintu ruang rapat itu terbuka. Yunho dan manager mereka masuk dengan wajah sedikit lebih tenang dibanding tiga wajah member yang memandang mereka. Yunho duduk dan memandang wajah membernya bergantian.
“keputusan sudah diambil”, Yunho menarik nafas. “Aku sebagai orang yang kalian tunjuk sebagai wakil, manager, dan perwakilan dari SM sudah membicarakannya, dan… sudah ada keputusan untuk masalah ini”
Ketiga member yang duduk di hadapan Yunho menahan nafas dan menatap Yunho dengan cemas. Takut sekaligus penasaran tentang keputusan yang akan mereka dengar beberapa saat lagi itu.
Yunho memandang manager-nya dan mengangguk pelan, lalu kembali menatap ketiga member di depannya.
“SM meminta, Junsu diganti saja…”
***




Tidak ada komentar:
Posting Komentar