Sabtu, 09 Januari 2010

(FF) Who Am I : chapter 3

title : Who Am I
chapter : 3
cast :
-Yoona SNSD as Yoona (in this fanfic, she's not one of SNSD's member. she's just an ordinary girl,,^^)
-TVXQ's member as themshelf
-someone as jihoo (read it, and you'll know who someone is...)



***

(Yoona POV)

Aku sungguh tak menyangka keberuntungan ini akan datang padaku. Sungguh. Aku tahu, ini memang akan terjadi… tapi aku tak menyangka akan secepat ini.

Aku memandang wajah yang terpantul pada cermin di hadapanku. Wajahku. Sungguh berbeda dengan beberapa waktu yang lalu. Wajah yang terpantul itu kini terlihat begitu bahagia. Dan senyumku… bukannya aku memuji diriku sendiri, tapi sungguh… begitu manis.

Ah, aku bahagia. Benar-benar bahagia.

Aku menjulurkan tanganku ke atas lemari, mencari-cari jepit rambut itu. Dan, ketemu!!! Tapi uh, kotor sekali. Warna putihnya memudar, tertutup oleh debu. Aku menyesal menyembunyikannya di sana…

Tapi, jepit rambut ini tetap cantik. Putih, warna kesukaanku. Maksudku, warna kesukaanku beberapa waktu ini, setelah dia memberikan jepit ini padaku dan mengatakan kalimat yang begitu manis… “warna putih ini, melambangkan putihnya kulitmu, cantiknya wajahmu, dan tulusnya hatimu…”

Kutiup debu dari jepit itu, lalu kupasang di rambutku. Manis sekali.

“ah, dia pasti menyukainya”, aku mengusap halus rambutku. “ini sempurna…”

Kulangkahkan kakiku dengan riang kea rah pintu kamar dan membukanya. Dari sini aku dapat melihat dia. Dia yang sedang duduk sambil memandang hamparan bunga di luar jendela.

“oppa…”

Dia menoleh.

“bagaimana?”, aku menunjuk jepit di atas kepalaku.

“manis” Senyum ringan mengembang di wajahnya. “manis sekali Yoona…”

Aku membalas senyumannya.

“Jihoo oppa… terima kasih”

***

“hati-hati…” Yoona melingkarkan tangan di lengan Jihoo. “Sudah kubilang, lebih baik kita diam saja di rumah. Aku takut kau belum terlalu kuat berjalan jauh…”

“aku tidak apa-apa”, Jihoo tersenyum. “lagipula, ada kau yang menjagaku, iya kan?”

Wajah Yoona memerah.

“kau… manis sekali saat wajahmu memerah seperti itu”, Jihoo tertawa kecil.

“aa..oppa… sudah” Yoona menundukkan wajahnya yang semakin merah.

Jihoo menuntun Yoona ke sebuah bangku taman, dan mereka berdua duduk di situ. Memandang kebun bungan yang terhampar luas di depan mereka.

“udara di sini segar sekali…”

Yoona mengangguk. “iya… kau suka oppa?”

“sukaaaa sekali…” Jihoo menghirup nafasnya, dalam.

“kalau begitu, kita tinggal di sini untuk selamanya oppa…”

Jihoo tertegun. Tinggal di sini selamanya, bersama Yoona. Tentu hal ini akan sangat membahagiakan untuknya. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal…

“oppa?” Yoona menatap wajah Jihoo dengan bingung. “ada apa? kau melamun?”

“eh, tidak…” Jihoo menggeleng pelan. “tidak… aku tidak apa-apa”. Jihoo tersenyum, lalu mengusap lembut kepala Yoona.

“kita akan tinggal di sini selamanya oppa”, Yoona mengulang kata-katanya. “kau pasti bahagia…”

Jihoo diam. Harusnya dia dengan lantang dan yakin mengatakan ‘ya!’ untuk ajakan Yoona itu. Harusnya dia tertawa senang. harusnya dia tersenyum lebar. Tapi bahkan untuk mengangguk pelan pun dia tidak bisa. Ada sesuatu yang mengganjal…

“oppa…”

“em?”

“aku…”

“em?”

“aku…”

“…”

“aku mencintaimu”

***

(Yoona POV)

Mungkin ini saat yang tepat untuk mengatakannya… biar kucoba lagi…

“oppa…”

Aduh, jantungku berdetak begitu kencang…

“em?”

“aku…”

Aahhh… aku benar-benar gugup. Lebih gugup dari yang telah lalu itu…

“em?”

“aku…”

“…”

“aku mencintaimu”

Dan aku mengatakannya. Aku memejamkan mata. Jantungku benar-benar berdegup kencang. Apa yang akan dikatakannya kali ini? Apa dia akan membalas perasaanku? Apa aku akan berhasil mendapatkan hatinya? Atau aku akan merasa sakit seperti yang telah lalu itu?

Aahh, dia mengusap lembut rambutku, membuat jantungku berdegup lebih kencang. Tuhan…

“Yoona, aku…”

Aku memberanikan diri menatap matanya yang polos itu.

“aku…”

***

(Jihoo POV)

“oppa…”

“em?”

“aku…”

“em?”

“aku…”

“…”

“aku mencintaimu”

Eh?

Dia mencintaiku. Tentu saja. Dan aku pasti mencintainya… jika tidak, bagaimana mungkin aku dan dia adalah sepasang kekasih? Kalimat yang bodoh Yoona, benar-benar bodoh…

Aku mengelus lembut rambutnya. Dia memejamkan matanya. Kenapa dia? Aaahh, dia pasti malu. Yoona-ku sungguh manis.

“Yoona, aku…”

Yoona menengadahkan wajahnya, menatapku dengan mata bulatnya. Aku akan mengatakan bahwa aku mencintainya. Itu mudah.

“aku…”

aa..Aishhh, apa yang terjadi padaku? kenapa rasanya lidahku kaku? Aku mencintainya. Aku hanya tinggal mengatakan bahwa aku mencintainya.

“aku… mencintaimu”

Aku mengatakannya dengan cepat dan melemparkan pandanganku kea rah hamparan bungan di depanku.

Kenapa… rasanya begitu menakutkan untuk mengatakan hal ini padanya?

***

(Yoona POV)

“aku… mencintaimu”

Kalimat itu terdengar begitu lembut di telingaku, dan membuatku begitu nyaman. Ini adalah sebuah mimpi indah yang menjadi kenyataan untukku. Hatiku bergetar dan aku benar-benar merasa bahagia. Ini adalah kalimat yang telah sejak lama kutunggu untuk keluar dari mulutmu oppa…

Aku mendekatkan bibirku ke telinganya dan berbisik lembut.

“terima kasih oppa… terima kasih”

Kupikir, jalan yang kuambil telah benar. Ini memang benar-benar jalan yang terbaik untukku dan oppa. Aku bahagia, dan oppa pasti merasakan hal yang sama untukku.

Jadi, tak mungkin ada penyesalan karena aku telah mengambil jalan ini. Ini… jalan yang terbaik.

***

Bruukk!!! Yoochun memukul meja. “sial. Memangnya apa sih yang dia pikirkan???!!!!aaargghhhh!!” dia menutup mukanya, frustasi. Di depannya, changmin tertegun, bingung. Sementara Jaejoong masih menatap tulisan di layar handphone yag dipegangnya itu dengan tatapan tak percaya.

Sebuah pesan.

09:00 pm

Junsu

Maafkan aku hyung.

Aku tak bisa lagi menjadi

salah satu dari member

DBSK. Aku putuskan untuk

mengundurkan diri. Maaf, dan

tolong jangan hubungi aku lagi.

Ini keputusan terbaik yang harus

aku ambil.

---

Berulang kali Jaejoong membaca pesan itu, berharap ada yang salah dengan pesan itu atau mungkin dengan matanya. Tapi berapa kali pun dia membacanya, pesan itu tetap di sana, dan dengan jelas mengatakan bahwa kini DBSK hanya memiliki empat member, tanpa seorang Kim Junsu di dalamnya.

Jaejoong menaruh handphone itu di atas meja, kemudian mengusap wajahnya yang tampak begitu pucat, bingung dan lelah. Entah apa yang harus dia dan member lain lakukan saat ini. Dia tak bisa berpikir jernih. Sosok Junsu malah memenuhi pikirannya. Junsu yang periang, angel smile, dolphin… Junsu si gagman itu… Jaejoong mengusap-usap lagi mukanya dengan kasar. Dia benar-benar tak dapat membayangkan apa jadinya DBSK tanpa sosok Junsu di dalamnya.

Tiba-tiba pintu ruang rapat itu terbuka. Yunho dan manager mereka masuk dengan wajah sedikit lebih tenang dibanding tiga wajah member yang memandang mereka. Yunho duduk dan memandang wajah membernya bergantian.

“keputusan sudah diambil”, Yunho menarik nafas. “Aku sebagai orang yang kalian tunjuk sebagai wakil, manager, dan perwakilan dari SM sudah membicarakannya, dan… sudah ada keputusan untuk masalah ini”

Ketiga member yang duduk di hadapan Yunho menahan nafas dan menatap Yunho dengan cemas. Takut sekaligus penasaran tentang keputusan yang akan mereka dengar beberapa saat lagi itu.

Yunho memandang manager-nya dan mengangguk pelan, lalu kembali menatap ketiga member di depannya.

“SM meminta, Junsu diganti saja…”

***



Minggu, 03 Januari 2010

(Oneshot) Falling Into You


title : Falling Into You
cast :
-Moon Geun Young as Geun Young
-Song Seung Hyun FT Island as Seung Hyun



Jam 8 pagi.

Tapi aku masih diam di sini. Di atas tempat tidur, dengan tubuh tertutup rapat selimut tebalku. Aku telah bangun sejak dua jam yang lalu. Aku mendengar ketika dua jam yang lalu ibu berteriak menyuruhku bangun, lalu menggerutu karena aku tak juga mengikuti perintahnya hingga dia berangkat kerja. Aku mendengar ketika satu jam yang lalu Hyun Bin oppa memintaku membuka pintu agar dia bisa meminta minyak wangiku, sampai akhirnya dia menyerah dan pergi. Aku juga mendengar ketika setengah jam yang lalu Seung Hyun memanggilku dari luar, mengajakku pergi sekolah. Dan sama seprti yang lain, dia menyerah dan pergi saat aku tak juga memberikan respon padanya.

Punggungku pegal, dan tenggorokanku terasa kering. Jadi aku menguatkan badanku untuk keluar dari balik selimut dan bangun. Aku memakai sandal rumahku yang hangat dengan malas, lalu berjalan gontai kearah dapur.

Aku ingin kembali ke tempat tidur, kembali menutup seluruh badanku dengan selimut. Tapi air yang kuminum sukses membuatku benar-benar terbangun. Mataku tak bisa lagi tertutup. Maka kulangkahkan kaki ke depan jendela kamar, lalu duduk di atas meja belajarku, bersender ke tembok dan menatap jauh ke luar jendela.

Dan air mataku kembali jatuh…

I hate myself today.

I don't know what's happening to me.

I hate my face today.

I think I look so shitty.

How can I date someone with a face like that?

I know yoú're gonna dump me again,

And I am gonna cry.

Cause you want a perfect girl,

And I'm not what you expect.

You want a perfect girl,

And I look shitty today.

*Shitty Day -soko

***

---satu hari sebelumnya---

“untukku?”

Aku mengangguk sambil tersenyum—kuharap ini senyum termanis yang pernah kukeluarkan.

“baiklah, terima kasih”

“eh?” aku menatapnya bingung.

“kenapa? Ada yang mau kau katakana lagi?”

“eu, tidak oppa…”, aku berbisik pelan.

“ya sudah, pergi sana”

Aku tertegun. Bahkan dia tak membuka barang itu… dia hanya memasukkannya ke dalam tas tanpa rasa peduli.

“oppa…”

“apa lagi?”, dia menatapku. Ekspresinya begitu dingin…

“emm, bolehkah aku…”, aku menarik nafas dalam, ”bolehkah aku… meminta jawabanmu sekarang?”

“jawaban apa?”, dia mendongakkan wajahnya dan langsung menatap mataku, membuat jantungku berdegup begitu kencang.

“emm, itu…”, suaraku bergetar, dan jantungku berdegup begitu kencang, “di dalam kotak itu…”

“apa?”, dahinya mengkerut, dan dia mengambil kotak yang kuberikan dari dalam tasnya.

Sebuah kotak dengan ukuran lebih kecil dan sebuah kertas menyembul keluar, tepat ketika dia membuka kotak itu.

“apa ini? Hadiah dan… surat?”, dia menatapku, “surat cinta?”

Aku tertegun. Ingin sekali aku mengangguk, tapi aku terlalu tegang menunggu jawabannya. Apakah dia akan menyukaiku? Apakah dia akan menerimaku? Apakah dia akan…

“maaf saja”

“eh?”, mataku membulat ketika aku mendengar jawabannya, “oppa..?”

“kau ingin mendengar jawabannya sekarang kan? Maaf saja. Aku tak tertarik padamu. Aku pergi ya..”

Dadaku benar-benar terasa sesak. Dan tepat ketika dia keluar dari ruangan itu, air mataku jatuh perlahan. Aku… patah hati.

***

Aku menarik nafas begitu dalam sambil mengusap air mata yang jatuh di pipiku. Harusnya aku tak mengatakan padanya, harusnya aku tak memberinya surat itu, harusnya aku tak jatuh cinta padanya. Aku merasa begitu bodoh.

Aku kembali melempar pandanganku keluar jendela. Langit begitu cerah pagi ini… tidak adil, sementara hatiku begitu gelap.

Aku membuka jendela kamar, membuat angin pagi yang dingin menyentuh kulit wajahku dan mengeringkan pipiku yang basah oleh air mata.

“hey, kucing kecil!!!”

Aku mengalihkan pandanganku ke sumber suara dengan spontan. Di balik pagar, seseorang melambaikan tangannya sambil tersenyum.

“seung hyun?”, aku memicingkan mataku.

Sosok itu membuka pagar, dan berlari mendekat. Tepat di depan jendela kamarku dia berhenti.

“kucing kecil…”, dia tersenyum sambil mengusap lembut kepalaku. “kau sakit?”

Aku membalas senyumnya sambil menggeleng pelan. “kau tidak pergi sekolah?”

Seung hyun tertawa kecil. “aku pergi… lalu aku kembali lagi kesini”

“kenapa?”, aku menatapnya, “kau khawatir aku sakit ya?”

“bodoh…”, seung hyun tertawa, “siapa juga yang khawatir padamu?”

Aku mendengus mendengar jawabannya, membuat tawa seung hyun semakin lebar.

“aku kembali karena ini… “, dia mengeluarkan sekotak susu coklat dari celananya, “aku lupa memberikan susu untuk kucingku…”

“kauu!!!”, aku memelototkan mata sambil merebut susu itu dari tangannya. “kau tidak tahu apa, aku sedang marah!! Sekarang kau seperti ini, membuatku bertambah kesal, dan… “, slurp, aku meminum susu itu, “…terima kasih”

Aku tersenyum sambil menatapnya. “kau memang teman terbaikku seung hyun…”

Seung hyun tersenyum. “cepat ganti baju, kita pergi”

“eh?”, aku menatapnya bingung. “kemana?”

“sudah, ikut saja. Kucing cerewet”

***

Seung hyun berjalan satu meter di belakangku. Aku menoleh padanya, dan dia berbisik pelan sambil mengerutkan dahinya. “kau aneh… aku malu berjalan di sampingmu”

“Seung Hyun!!!!!!”, aku berteriak kesal, membuatnya tertawa terbahak-bahak. “kau berani yaaa!!!!awas kau!!!”

Seung Hyun berjalan cepat ke arahku, lalu menggandeng lenganku. “aku bercanda, aku bercanda Geun Young… aku bercanda”, Seung hyun tertawa sambil menarikku berjalan di sampingnya.

“apa aku sejelek itu ya?”, aku menundukkan kepala. Hari ini memang berbeda. Tak ada miniskirt, kemeja pink, atau highheels yang biasa melekat di tubuhku. Tak ada pula blush on atau eyeshadow yang biasa menjadi topeng di wajahku. Hanya skinny jeans, kaos longgar, bedak tipis, dan rambut terurai yang kupamerkan hari ini—kalopun ini masih bisa kupamerkan.

Aku benar-benar biasa hari ini.

Seung hyun tertawa kecil. “kalau kujawab bahwa kau memang sejelak itu, kau akan berlari pulang dan menangis, begitu?”

“seung hyuuunn~ kau yang menyuruhku berpakaian seperti ini!!!”, aku memukul kepalanya, membuat dia meringis.

“sakit…”

“kau tahu, aku bisa berbuat lebih jahat dari itu…”, aku memanyunkan bibirku, kesal.

“iya, iya, maaf…”, seung hyun tersenyum. “kau cantik Geun Young…”

“benarkah? Tapi aku merasa jelek…”

“bukan jelek, tapi tak biasa…”, seung hyun berkata dengan lembut, “kau tahu, bagiku sosokmu yang seperti ini adalah sosokmu yang tercantik yang pernah kulihat…”

Entah, tapi saat itu suara seung hyun terdengar begitu lembut di telingaku, dan membuat jantungku berdegup kencang. Aku melirik, menatap wajah seung hyun. Seung hyun tidak menatapku, dia hanya memandang lurus ke depan sambil tersenyum.

“seung hyun…”

***

“benarkah boleh seperti ini?”

Seung hyun menatapku, lalu menatap sekeliling kami. “tak ada aturan yang melarang hal ini terpasang di sini… jadi sepertinya tidak apa-apa”. Seung hyun menyandarkan tubuhnya ke rak yang penuh dengan CD di belakang kami. “lagipula, aku sudah sering melakukannya, dan tak pernah ada masalah…”

Kami berdua duduk di sebuah sudut, dalam toko CD dan kaset yang sepi. hanya ada beberapa orang di sini, yang sibuk memilih CD atau kaset kesukaannya. Sementara aku dan seung hyun hanya duduk di lantai, menyandar pada rak yang penuh dengan CD koleksi lama.

“nyaman…”, aku memejamkan mata, “kau benar seung hyun, tempat ini sepi, dingin, dan benar-benar nyaman”

“dan menyediakan music gratis”, seung hyun tertawa kecil.

Untuk beberapa menit, kami diam. Tak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun. Benar-benar menikmati rasa sepi dan nyaman ini… hingga akhirnya,

“Seung hyun…”, aku berbisik pelan, “Dia mengatakan dia tak tertarik padaku…”

“aku sudah tau”

“eh?”, aku menatapnya.

“aku tahu… matamu yang bengkak itu yang mengatakannya padaku”

Aku tersenyum kecil. “iya… aku menangis begitu parah semalam. Aahh, bahkan rasanya aku tak lagi punya air mata sekarang…”

Seung hyun tersenyum. “baguslah, jadi aku tak perlu lagi melihatmu menangis”

“kau ini…”, aku menyenggol lengannya, lalu menarik nafas dalam. “Seung Hyun…”

“ehm?”

“aku bodoh sekali yah?”

“bodoh kenapa?”

“aku tidak bisa menjadi gadis yang sempurna…”

“tak ada manusia yang sempurna di dunia ini, kau tahu itu”

“tapi Hong Ki oppa menginginkan gadis yang sempurna…”

“kalau begitu dia akan jadi perjaka tua”

Aku tergelak mendengar perkataannya. Membayangkan Hong Ki oppa menjadi perjaka tua benar-benar membuatku tak bisa menahan tawa. Ketika tawaku reda, aku kembali menatap Seung Hyun.

“Lalu, kalau kau bagaimana?”

“aku?”, Seung Hyun menatapku. Aku mengangguk pelan.

“aku… menyukai apa yang Tuhan telah ciptakan untukku”

Tatapan mata seung hyun saat itu… aku merasakan sesuatu yang berbeda. Ada harapan terselip di dalamnya, ada kehangatan, ada cinta.

“Seung hyun…”, aku berbisik pelan sambil menatapnya.

“ehm?”

“kau menyukaiku ya? maksudku… kau menyukaiku lebih dari sekedar sahabat, ya?”

Seung hyun diam. Dia melemparkan pandangannya lurus ke depan, kea rah rak CD di depan kami.

“pipimu memerah Seung Hyun… kau tak usah menjawabnya, aku sudah bisa menebak…”, aku berkata pelan.

Seung Hyun masih diam. Samar-samar aku mendengar degup jantungnya yang berubah cepat.

“eeeuuhm, euhm”, Seung hyun membuka suara, “aku…”, suaranya bergetar, “aku tak akan menyanggahnya…”

Seung Hyun tersenyum kecil, tapi tetap tak menatap wajahku. Mungkin dia terlalu malu…

“aku takkan memaksamu menerimaku Geun Young… aku tahu, tak semudah itu melupakan seseorang, lalu mencintai orang lain. Aku sudah cukup bahagia bisa menemanimu seperti ini…”

Benar-benar lembut, dan begitu menenangkan hati. Perkataan seung hyun itu, membuatku merasa benar-benar tenang. Benar, bahwa di hatiku masih terselip rasa sakit karena penolakkan Hong Ki Oppa padaku… tapi rasa hangat yang tiba-tiba masuk ketika seung hyun mengucapkan kata-kata barusan itu…

“Seung hyun…”, aku berbisik pelan. Suaraku bergetar, bahkan lebih hebat dari ketika aku menyatakan perasaanku pada Hong Ki oppa. “kau tahu… mungkin yang membuat tempat ini terasa nyaman bukan hanya karena rasa sepi, dingin, atau music gratis itu saja…”

Aku menyenderkan kepalaku perlahan di pundaknya. “mungkin, rasa nyaman ini… karena dirimu”

Dan di depanku, kaca yang menutup rak CD memantulkan bayangan wajah yang sedang tersenyum. Wajah Seung Hyun.

Kali ini, aku benar-benar bahagia. Aku… jatuh cinta.

I'm falling into you

This dream could come true

And it feels so good

falling into you

*Falling Into You –Celine Dion


(FF) She's The One : chapter 1

title : She's The One
chapter : 1
cast :
-Sung Yu Ri as Han Seung Mi
-TVXQ's member as themshelf with Junsu as main cast



***

“oh.my.god”

Suara changmin yang sedikit keras memecah kesunyian di ruangan latihan itu. Dengan spontan, wajah keempat member lain menoleh, menatap changmin yang mengintip keluar ruangan dari balik pintu dengan mulut terbuka lebar.

“ya!changmin!! berteriak seperti itu tiba-tiba… mengagetkan saja”, Yunho berkata dengan wajah sedikit kesal. “Memangnya apa yang kau lihat? Hantu?”

“aaaa… kalau ada hantu sesempurna ini, aku akan memohon untuk dinikahi olehnya hyung”, ujar changmin dengan mata tetap menatap sosok di luar ruangan itu.

“ah, aku berani bertaruh, Han Ga In lah yang sedang berjalan di luar itu… satu-satunya wanita yang harry potter itu puja samapi saat ini. Sudahlah…”, Jajeoong berkata dengan yakin.

“dan kau kalah taruhan hyung…”, Yoochun berbisik pelan dengan mulut yang setengah menganga. Dia kini duduk berlutut di samping changmin, ikut mengintip keluar dari balik pintu. “oh, my, god. She is an angel…”

Yunho saling bertukar pandang dengan Jaejoong, dan sedetik kemudian kedua sosok itu berlari dengan cepat menghampiri Yoochun dan Changmin, ikut berlutut di samping mereka, dan berakhir dengan ekspresi wajah yang sama dengan Yoochun dan Changmin : terpesona, dengan mata yang tidak berkedip dan mulut menganga.

Hanya Junsu yang masih duduk di sudut ruangan, sibuk dengan handphone di tangannya, tampak tak tertarik dengan apa yang membuat empat saudaranya itu terpesona.

“Junsu hyung… kau takkan percaya dengan apa yang kami lihat”, changmin berkata, dengan pandangan tak lepas dari sosok itu.

“Tcih”, Junsu tersenyum sinis, “kalian ini… seperti tak pernah melihat wanita saja”.

“dia… bukan wanita, tapi bidadari…”, Yoochun berbisik pelan.

“ya!Yoochun~ah!wanita mana yang tidak tampak sebagai bidadari di matamu sih? Hah??”, Junsu berkata setengah berteriak, namun tetap tak beranjak dari tempatnya. Kepalanya tertunduk menatap layar handphone yang dipegangnya.

“sungguh… bahkan dia lebih cantik darimu Jaejoong~ah”, Yunho berbisik pelan dengan mata tak lepas menatap sosok di luar itu.

Jaejoong mendelik ke arah Yunho, kesal, tapi ketika terdengar derap langkah kaki mendekat, Jaejoong melempar pandangannya ke luar, lalu berdiri dengan cepat. “he..hey, di..dia kesini.. eh, natural, natural.. kita harus natural…”

Jaejoong berjalan dengan cepat ke sudut ruangan, mengambil air mineral lalu meneguknya pelan-pelan. Berakting, seolah-olah dia memang sedang kehausan dan minum sejak tadi. Yunho berdiri di depan kaca, menggerakkan kakinya, seolah sedang melatih tariannya, Yoochun duduk di kursi, membuka tasnya, mengeluarkan sebuah buku tebal, dan membacanya dengan cepat. Sementara changmin duduk di samping Junsu dan memukul-mukulkan botol air mineral yang kosong ke kepala hyung-nya itu, seperti yang biasa dia lakukan jika sedang break latihan.

“aaaiish, changmin!!”, Junsu melotot kea rah changmin. Changmin menatap junsu dengan wajah sedikit memelas, memohon agar Junsu tidak marah kali ini. “akting hyung.. akting… please?”

Junsu menatap changmin dengan tajam dengan sudut atas bibirnya sedikit ditarik ke atas. Kesal. “Sim Changmin, kau…”

“ehm”

Suara deheman yang cukup keras mengalihkan perhatian Junsu yang baru saja akan berteriak sambil memukul changmin. Junsu menoleh. Seorang pria paruh baya masuk ke ruangan mereka dan berdiri di depan pintu. Di belakangnya, tertutupi oleh badan pria itu, tersembunyi sosok lain.

Seorang gadis. Junsu berkata dalam hati. Dia yakin itu, karena meski tubuh sosok itu tertutup oleh si pria, dari sela-sela kaki pria paruh baya itu, dia dapat melihat sepasang kaki yang begitu mulus dan putih, dengan sepatu highheels merah yang mempercantik bentuk kakinya.

“Saya diminta untuk mengantar nona ini melihat-lihat kantor kita. Maaf jika mengganggu waktu kalian semua”, pria itu berkata dengan sopan.

“ah, tidak apa-apa paman”, Yunho berkata sambil tersenyum dan menghampiri pria itu. “Kebetulan kami pun sedang beristirahat, jadi kedatangan anda dan nona dibelakang anda itu sama sekali tidak mengganggu”, Yunho menjawab dengan tak kalah sopannya.

Pria itu tersenyum, lega bercampur senang. “ya, ya.. bagus jika kedatangan kami tidak mengganggu waktu kalian”, Pria itu mengangguk-anggukan kepalanya, lalu menoleh ke belakang, kea rah nona yang tertutup olehnya. “nona Han, silahkan”

Pria itu bergeser ke samping, membuat sosok gadis di belakangnya kini terlihat dengan jelas.

“aisshhh”, Jaejoong mendesis pelan, lalu menatap Yoochun yang duduk tak jauh darinya. Yoochun membalasnya dengan kedipan mata, lalu menggerakkan-gerakkan mulutnya, berbicara tanpa mengeluarkan suara. “cantik sekali…”

Changmin berhenti memukuli Junsu. Kini dia berdiri di samping Yunho sambil mengeluarkan senyum manisnya.

Gadis itu tersenyum, manis sekali. “err, maaf mengganggu sebelumnya oppa.. em, perkenalkan, namaku Han Seung Mi, artis baru di perusahaan ini. Sungguh sebuah kehormatan bisa bertemu dengan oppa semua, dan mohon bimbingannya…”, dia membungkuk dengan hormat.

“aaa, ya..”, Yunho tersenyum ramah, “selamat datang Seung Mi, semoga kita bisa menjadi teman yang baik…”

Gadis bernama Seung Mi itu mengangkat badannya, lalu melempar pandangan ke sekelilingnya. Matanya berhenti sejenak pada sosok yang duduk di sudut ruangan dan menatapnya dengan pandangan yang berbeda, kemudian beralih menatap Yoochun dengan cepat.

“ah, Yoochun oppa, sedang membaca buku kah?”

“ah, eh… iya”, Yoochun tersenyum, “err.. hobiku memang membaca buku”

“dengan… posisi buku terbalik?”, Seung Mi menahan senyum.

“eh?”, Yoochun terkejut. Matanya teralih ke buku yang dipegangnya. Terbalik, benar-benar terbalik. Wajahnya memerah, dan Yoochun benar-benar terlihat berusaha keras untuk tetap terlihat keren di mata gadis itu. “err, iya…ehm”, Yoochun berdehem, membetulkan suaranya yang terdengar bergetar menahan malu, “gaya baru… bosan dengan gaya membaca yang lama itu. Terlalu kuno untukku”

Tawa meledak seketika di ruangan itu. Yunho, Changmin, Jaejoong dan pria itu tertawa terbahak sambil menatap Yoochun yang menundukkan wajahnya yang memerah, tersenyum malu. Tak berbeda jauh, Seung Mi tertawa dengan lepas, membuat lesung pipit di pipinya terlihat jelas.

Hanya dia yang terdiam. Junsu. Tetap duduk di sudut ruangan, menatap sosok gadis di depannya dengan pandangan yang begitu aneh. Tak ada senyum, tak ada mata yang biasanya begitu ramah menyapa orang di sekelilingnya.

Junsu mematung, menatap sosok itu dalam diam.

Dia…

***

“kalau begitu…”, gadis itu membungkukkan badannya dalam-dalam, “selamat tinggal oppa”

Junsu terdiam, menatap sosok gadis di depannya dengan tatapan tak percaya. Tak satupun kata keluar dari mulutnya. Dia masih terlalu terkejut dengan apa yang terjadi di depannya.

Gadis itu mengangkat badannya, lalu tersenyum menatap Junsu. “aku harap, oppa bahagia selalu. Jaga kesehatan, oppa… dan terima kasih untuk perhatian yang oppa berikan padaku selama ini”

Gadis itu berbalik, lalu melangkah pelan, meninggalkan Junsu yang masih terdiam. Junsu ingin sekali berteriak, memohon pada gadis itu untuk tidak pergi dari sisinya. Tapi melihat rasa mantap dan tegas dari wajah gadis itu saat mengatakan ucapan perpisahan itu, dia benar-benar tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

Junsu menatap punggung sosok si gadis yang menjauh, menatap tiap langkah yang dia ambil. Sedikit harapan gadis itu akan kembali terselip, ketika tiba-tiba dia berhenti dan membalikkan badan, lalu menatapnya.

“hiduplah dengan baik oppa, dan lupakan aku…”

Gadis itu berbalik dengan cepat, lalu berlari.

Sesak. Hanya itu yang dapat Junsu rasakan. Rasanya benar-benar ingin menangis, tapi bahkan air matanya tidak dapat keluar sedikit pun. Matanya sayu menatap sosok gadis itu yang dengan cepat menjauh, lalu menghilang di depannya. Dalam pikirannya, kenangan-kenangan indah yang dia lalui dengan gadis itu berputar cepat.

Untuk beberapa saat Junsu terdiam. Angin malam di sekelilingnya bertiup kencang, dingin, tapi Junsu terlalu kalut untuk memikirkannya.

Junsu menundukkan wajahnya. Air mata akhirnya jatuh perlahan di pipinya, tepat ketika bibirnya membisikkan sebuah nama dengan lirih. “Seung mi…”

nae-geso kudae-nun sara-jyo-son andwenun
bicho-ossumul anayo
kudae-ga ttonamyon naye modun sesangdo
sarajindonun-gol i-jji-nun marayo
sumul shwigo shipoyo ku-dae sarang a-neso

(You mustn’t disappear from my life
Know that you are my light
If you leave, you take away my whole world
Don’t forget that it will all disappear
I want to breathe
From in your love)

*Reason--Autumn in My Heart (Endless Love) OST*

***