Minggu, 03 Januari 2010

(Oneshot) Falling Into You


title : Falling Into You
cast :
-Moon Geun Young as Geun Young
-Song Seung Hyun FT Island as Seung Hyun



Jam 8 pagi.

Tapi aku masih diam di sini. Di atas tempat tidur, dengan tubuh tertutup rapat selimut tebalku. Aku telah bangun sejak dua jam yang lalu. Aku mendengar ketika dua jam yang lalu ibu berteriak menyuruhku bangun, lalu menggerutu karena aku tak juga mengikuti perintahnya hingga dia berangkat kerja. Aku mendengar ketika satu jam yang lalu Hyun Bin oppa memintaku membuka pintu agar dia bisa meminta minyak wangiku, sampai akhirnya dia menyerah dan pergi. Aku juga mendengar ketika setengah jam yang lalu Seung Hyun memanggilku dari luar, mengajakku pergi sekolah. Dan sama seprti yang lain, dia menyerah dan pergi saat aku tak juga memberikan respon padanya.

Punggungku pegal, dan tenggorokanku terasa kering. Jadi aku menguatkan badanku untuk keluar dari balik selimut dan bangun. Aku memakai sandal rumahku yang hangat dengan malas, lalu berjalan gontai kearah dapur.

Aku ingin kembali ke tempat tidur, kembali menutup seluruh badanku dengan selimut. Tapi air yang kuminum sukses membuatku benar-benar terbangun. Mataku tak bisa lagi tertutup. Maka kulangkahkan kaki ke depan jendela kamar, lalu duduk di atas meja belajarku, bersender ke tembok dan menatap jauh ke luar jendela.

Dan air mataku kembali jatuh…

I hate myself today.

I don't know what's happening to me.

I hate my face today.

I think I look so shitty.

How can I date someone with a face like that?

I know yoú're gonna dump me again,

And I am gonna cry.

Cause you want a perfect girl,

And I'm not what you expect.

You want a perfect girl,

And I look shitty today.

*Shitty Day -soko

***

---satu hari sebelumnya---

“untukku?”

Aku mengangguk sambil tersenyum—kuharap ini senyum termanis yang pernah kukeluarkan.

“baiklah, terima kasih”

“eh?” aku menatapnya bingung.

“kenapa? Ada yang mau kau katakana lagi?”

“eu, tidak oppa…”, aku berbisik pelan.

“ya sudah, pergi sana”

Aku tertegun. Bahkan dia tak membuka barang itu… dia hanya memasukkannya ke dalam tas tanpa rasa peduli.

“oppa…”

“apa lagi?”, dia menatapku. Ekspresinya begitu dingin…

“emm, bolehkah aku…”, aku menarik nafas dalam, ”bolehkah aku… meminta jawabanmu sekarang?”

“jawaban apa?”, dia mendongakkan wajahnya dan langsung menatap mataku, membuat jantungku berdegup begitu kencang.

“emm, itu…”, suaraku bergetar, dan jantungku berdegup begitu kencang, “di dalam kotak itu…”

“apa?”, dahinya mengkerut, dan dia mengambil kotak yang kuberikan dari dalam tasnya.

Sebuah kotak dengan ukuran lebih kecil dan sebuah kertas menyembul keluar, tepat ketika dia membuka kotak itu.

“apa ini? Hadiah dan… surat?”, dia menatapku, “surat cinta?”

Aku tertegun. Ingin sekali aku mengangguk, tapi aku terlalu tegang menunggu jawabannya. Apakah dia akan menyukaiku? Apakah dia akan menerimaku? Apakah dia akan…

“maaf saja”

“eh?”, mataku membulat ketika aku mendengar jawabannya, “oppa..?”

“kau ingin mendengar jawabannya sekarang kan? Maaf saja. Aku tak tertarik padamu. Aku pergi ya..”

Dadaku benar-benar terasa sesak. Dan tepat ketika dia keluar dari ruangan itu, air mataku jatuh perlahan. Aku… patah hati.

***

Aku menarik nafas begitu dalam sambil mengusap air mata yang jatuh di pipiku. Harusnya aku tak mengatakan padanya, harusnya aku tak memberinya surat itu, harusnya aku tak jatuh cinta padanya. Aku merasa begitu bodoh.

Aku kembali melempar pandanganku keluar jendela. Langit begitu cerah pagi ini… tidak adil, sementara hatiku begitu gelap.

Aku membuka jendela kamar, membuat angin pagi yang dingin menyentuh kulit wajahku dan mengeringkan pipiku yang basah oleh air mata.

“hey, kucing kecil!!!”

Aku mengalihkan pandanganku ke sumber suara dengan spontan. Di balik pagar, seseorang melambaikan tangannya sambil tersenyum.

“seung hyun?”, aku memicingkan mataku.

Sosok itu membuka pagar, dan berlari mendekat. Tepat di depan jendela kamarku dia berhenti.

“kucing kecil…”, dia tersenyum sambil mengusap lembut kepalaku. “kau sakit?”

Aku membalas senyumnya sambil menggeleng pelan. “kau tidak pergi sekolah?”

Seung hyun tertawa kecil. “aku pergi… lalu aku kembali lagi kesini”

“kenapa?”, aku menatapnya, “kau khawatir aku sakit ya?”

“bodoh…”, seung hyun tertawa, “siapa juga yang khawatir padamu?”

Aku mendengus mendengar jawabannya, membuat tawa seung hyun semakin lebar.

“aku kembali karena ini… “, dia mengeluarkan sekotak susu coklat dari celananya, “aku lupa memberikan susu untuk kucingku…”

“kauu!!!”, aku memelototkan mata sambil merebut susu itu dari tangannya. “kau tidak tahu apa, aku sedang marah!! Sekarang kau seperti ini, membuatku bertambah kesal, dan… “, slurp, aku meminum susu itu, “…terima kasih”

Aku tersenyum sambil menatapnya. “kau memang teman terbaikku seung hyun…”

Seung hyun tersenyum. “cepat ganti baju, kita pergi”

“eh?”, aku menatapnya bingung. “kemana?”

“sudah, ikut saja. Kucing cerewet”

***

Seung hyun berjalan satu meter di belakangku. Aku menoleh padanya, dan dia berbisik pelan sambil mengerutkan dahinya. “kau aneh… aku malu berjalan di sampingmu”

“Seung Hyun!!!!!!”, aku berteriak kesal, membuatnya tertawa terbahak-bahak. “kau berani yaaa!!!!awas kau!!!”

Seung Hyun berjalan cepat ke arahku, lalu menggandeng lenganku. “aku bercanda, aku bercanda Geun Young… aku bercanda”, Seung hyun tertawa sambil menarikku berjalan di sampingnya.

“apa aku sejelek itu ya?”, aku menundukkan kepala. Hari ini memang berbeda. Tak ada miniskirt, kemeja pink, atau highheels yang biasa melekat di tubuhku. Tak ada pula blush on atau eyeshadow yang biasa menjadi topeng di wajahku. Hanya skinny jeans, kaos longgar, bedak tipis, dan rambut terurai yang kupamerkan hari ini—kalopun ini masih bisa kupamerkan.

Aku benar-benar biasa hari ini.

Seung hyun tertawa kecil. “kalau kujawab bahwa kau memang sejelak itu, kau akan berlari pulang dan menangis, begitu?”

“seung hyuuunn~ kau yang menyuruhku berpakaian seperti ini!!!”, aku memukul kepalanya, membuat dia meringis.

“sakit…”

“kau tahu, aku bisa berbuat lebih jahat dari itu…”, aku memanyunkan bibirku, kesal.

“iya, iya, maaf…”, seung hyun tersenyum. “kau cantik Geun Young…”

“benarkah? Tapi aku merasa jelek…”

“bukan jelek, tapi tak biasa…”, seung hyun berkata dengan lembut, “kau tahu, bagiku sosokmu yang seperti ini adalah sosokmu yang tercantik yang pernah kulihat…”

Entah, tapi saat itu suara seung hyun terdengar begitu lembut di telingaku, dan membuat jantungku berdegup kencang. Aku melirik, menatap wajah seung hyun. Seung hyun tidak menatapku, dia hanya memandang lurus ke depan sambil tersenyum.

“seung hyun…”

***

“benarkah boleh seperti ini?”

Seung hyun menatapku, lalu menatap sekeliling kami. “tak ada aturan yang melarang hal ini terpasang di sini… jadi sepertinya tidak apa-apa”. Seung hyun menyandarkan tubuhnya ke rak yang penuh dengan CD di belakang kami. “lagipula, aku sudah sering melakukannya, dan tak pernah ada masalah…”

Kami berdua duduk di sebuah sudut, dalam toko CD dan kaset yang sepi. hanya ada beberapa orang di sini, yang sibuk memilih CD atau kaset kesukaannya. Sementara aku dan seung hyun hanya duduk di lantai, menyandar pada rak yang penuh dengan CD koleksi lama.

“nyaman…”, aku memejamkan mata, “kau benar seung hyun, tempat ini sepi, dingin, dan benar-benar nyaman”

“dan menyediakan music gratis”, seung hyun tertawa kecil.

Untuk beberapa menit, kami diam. Tak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun. Benar-benar menikmati rasa sepi dan nyaman ini… hingga akhirnya,

“Seung hyun…”, aku berbisik pelan, “Dia mengatakan dia tak tertarik padaku…”

“aku sudah tau”

“eh?”, aku menatapnya.

“aku tahu… matamu yang bengkak itu yang mengatakannya padaku”

Aku tersenyum kecil. “iya… aku menangis begitu parah semalam. Aahh, bahkan rasanya aku tak lagi punya air mata sekarang…”

Seung hyun tersenyum. “baguslah, jadi aku tak perlu lagi melihatmu menangis”

“kau ini…”, aku menyenggol lengannya, lalu menarik nafas dalam. “Seung Hyun…”

“ehm?”

“aku bodoh sekali yah?”

“bodoh kenapa?”

“aku tidak bisa menjadi gadis yang sempurna…”

“tak ada manusia yang sempurna di dunia ini, kau tahu itu”

“tapi Hong Ki oppa menginginkan gadis yang sempurna…”

“kalau begitu dia akan jadi perjaka tua”

Aku tergelak mendengar perkataannya. Membayangkan Hong Ki oppa menjadi perjaka tua benar-benar membuatku tak bisa menahan tawa. Ketika tawaku reda, aku kembali menatap Seung Hyun.

“Lalu, kalau kau bagaimana?”

“aku?”, Seung Hyun menatapku. Aku mengangguk pelan.

“aku… menyukai apa yang Tuhan telah ciptakan untukku”

Tatapan mata seung hyun saat itu… aku merasakan sesuatu yang berbeda. Ada harapan terselip di dalamnya, ada kehangatan, ada cinta.

“Seung hyun…”, aku berbisik pelan sambil menatapnya.

“ehm?”

“kau menyukaiku ya? maksudku… kau menyukaiku lebih dari sekedar sahabat, ya?”

Seung hyun diam. Dia melemparkan pandangannya lurus ke depan, kea rah rak CD di depan kami.

“pipimu memerah Seung Hyun… kau tak usah menjawabnya, aku sudah bisa menebak…”, aku berkata pelan.

Seung Hyun masih diam. Samar-samar aku mendengar degup jantungnya yang berubah cepat.

“eeeuuhm, euhm”, Seung hyun membuka suara, “aku…”, suaranya bergetar, “aku tak akan menyanggahnya…”

Seung Hyun tersenyum kecil, tapi tetap tak menatap wajahku. Mungkin dia terlalu malu…

“aku takkan memaksamu menerimaku Geun Young… aku tahu, tak semudah itu melupakan seseorang, lalu mencintai orang lain. Aku sudah cukup bahagia bisa menemanimu seperti ini…”

Benar-benar lembut, dan begitu menenangkan hati. Perkataan seung hyun itu, membuatku merasa benar-benar tenang. Benar, bahwa di hatiku masih terselip rasa sakit karena penolakkan Hong Ki Oppa padaku… tapi rasa hangat yang tiba-tiba masuk ketika seung hyun mengucapkan kata-kata barusan itu…

“Seung hyun…”, aku berbisik pelan. Suaraku bergetar, bahkan lebih hebat dari ketika aku menyatakan perasaanku pada Hong Ki oppa. “kau tahu… mungkin yang membuat tempat ini terasa nyaman bukan hanya karena rasa sepi, dingin, atau music gratis itu saja…”

Aku menyenderkan kepalaku perlahan di pundaknya. “mungkin, rasa nyaman ini… karena dirimu”

Dan di depanku, kaca yang menutup rak CD memantulkan bayangan wajah yang sedang tersenyum. Wajah Seung Hyun.

Kali ini, aku benar-benar bahagia. Aku… jatuh cinta.

I'm falling into you

This dream could come true

And it feels so good

falling into you

*Falling Into You –Celine Dion


Tidak ada komentar:

Posting Komentar