title : Who Am I
chapter : 1
cast :
-Yoona SNSD as Yoona (in this fanfic, she's not one of SNSD's member. she's just an ordinary girl,,^^)
-TVXQ's member as themshelf
-someone as jihoo (read it, and you'll know who someone is...)
***
“Aku mencintaimu oppa…”
“Maafkan aku… aku sungguh tidak bisa”
“Kenapa? Apa aku kurang cantik untukmu? Apa aku tak tampak menarik bagimu oppa?”
“Bu..bukan begitu… sungguh, kau gadis yang begitu menarik…”
“Lalu apa sulitnya bagimu menerima cintaku oppa?”
“Aku hanya tak mau menyakiti dirimu …”
“Aku akan merasa jauh lebih sakit jika kau tak menerimaku oppa…”
“Nne… kumohon, mengertilah… banyak yang harus dikorbanan untuk memenuhi keinginanmu itu…”
“Apa oppa? Karirmu? Teman-temanmu? Fans-fansmu?”
“dirimu…”. Pemuda itu menarik nafas panjang. “Dirimu harus berkorban begitu banyak untukku jika aku menerima cintamu…”
Wajah gadis cantik itu, yang sejak awal terangkat menatap tajam mata si pemuda, kali ini tertunduk. Dari sudut matanya, air mata yang sejak tadi ditahannya agar tidak jatuh kini mengalir perlahan. “Tapi aku siap menghadapinya oppa…”
“Aku tidak mau mengambil resiko Yoona…”, tangan si pemuda mengelus lembut rambut gadis bernama Yoona itu. “Penyesalan selalu datang terlambat Yoona… aku tidak mau nanti menyesal karena telah mengorbankanmu, karena telah membuatmu sakit…”
Tangan Yoona menepis kasar usapan lembut si pemuda di atas kepalanya. Matanya kembali tajam menatap si pemuda. “Kau memang akan menyesal oppa…”
“Yoona…”
“Kau akan menyesal karena kau tidak mau menerima cintaku oppa”
“Yoona, jangan seperti ini, kumohon”
“Kau akan sangat menyesal dengan apa yang telah kau lakukan padaku oppa, lihat saja…”. Yoona mengambil langkah mundur perlahan. “Lihat saja oppa…”
Dan dia berlari cepat, meninggalkan si pemuda yang tertegun. Andai kau tahu seperti apa sakitnya untuk menolak cintamu Yoona…
***
“changmin~ah jangan seperti ini…”
“panggil aku hyung”
“aku hanya ingin meminjam ipod mu sebentaaar”
“panggil aku hyung”
“sim changmin! Hormatilah sedikit hyungmu ini”
“panggil aku hyung, dan tidak ada penawaran lain”
“aarrgggghh!!! Aku menyeraaaaahhh!!!!” Junsu mengacak-acak rambutnya sendiri, frustasi. “mempunyai adik sepertimu benar-benar kesialan besar untukku!! Arrgghhhh!!!!”
“heuu… sudah kubilang jangan meminjam punyanya… ambil saja punyaku”, Yoochun melemparkan ipod miliknya ke arah Junsu.
“tapi aku ingin yang ituuu…”, Junsu merenggut, sambil menunjuk ipod yang kini dipegang changmin.
“kau mau ini? Mau ipod ini?” changmin menatap Junsu dengan wajah polosnya. Junsu mengangguk cepat.
“panggil, aku, CHANGMIN HYUNG”
“bwahaaaaaaaaaaaaaaaa”, yoochun tertawa keras, dan senyum lebar mengembang di wajah changmin.
Junsu berdiri dan berjalan ke arah changmin. Tangannya mengepal. “Sim Changmin, kau…”
“Eitss”
Tepat sebelum kepalan tangan Junsu mendarat dengan keras di atas kepala changmin, seseorang memeluk tubuh junsu dari belakang.
“aarrgghhhh, jaejoong hyung… lepaskan aku”, Junsu meronta dengan sangat keras “harry potter palsu ini harus diberi sedikit pelajaran”
“de..dewasalah sedikit Junsu…” Jaejoong menahan Junsu dengan susah payah.
“lepaskan hyung… aku harus memberinya pelajaran.. aaarrrrghhhhh”
“ayolah junsu.. jangan seperti ini”
“aaaaa…lepaskan hyung!!! Lepaskan!!!!”
“baik! Baik” Jaejoong melepaskan pelukannya. Suaranya meninggi. “Baik. Silahkan. Pukul changmin sekarang, dan aku akan mengatakan pada manajer hyung bahwa kau bolos latihan kemarin bukan karena sakit, tapi karena sibuk menemani gadismu itu!!”
Junsu menatap Jaejoong tak percaya. “aissh, hyung… jangan tega seperti itu padaku…”
“berhenti berkelahi kalu begitu”
“aaa.. hyung…”
“berhenti atau aku menelepon manager hyung sekarang juga”
Junsu menunduk, menyerah. “arasso…” badannya berbalik, melangkah perlahan menjauhi changmin yang senyumnya semakin lebar.
“ahahahahaaaa… dolphin bodoh menyerah padaku!!! Dolp…”
“kau juga diam changmin!!”, Jaejoong berbalik menatap changmin. “Ejek Junsu sekali lagi, dan tak ada makan malam untukmu!”
Changmin mengunci rapat mulutnya. Tak ada yang lebih ditakutinya dari ancaman kehilangan jatah makan malam itu.
Junsu merebahkan dirinya dengan kasar di samping Yoochun. Matanya menatap sinis kea rah changmin. Yoochun tertawa kecil. “baby, sudahlah…” Yoochun menepuk lembut pundak Junsu.
“yoochun~ah.. aku benar-benar kesal pada harry potter itu. Aiissshhh”, Junsu menyenderkan kepalanya ke tembok “hahhhh… sudahlah…”
Yoochun tersenyum lega, menyadari lumba-lumba di depannya itu telah menurunkan emosinya.
“eh, bagaimana kencanmu kemarin? Hey, kau belum menceritakannya padaku”
Tatapan Junsu berubah, meski ekspresi wajahnya tetap sama. Ada titik kesedihan di dalamnya. “errr… tidak ada yang perlu diceritakan padamu. Biasa saja… ah, sudahlah. Lagipula, itu bukan kencan. Aku hanya menemaninya makan, itu pun di rumahnya. Itu saja.”
“benar begitu?”
Junsu mengangguk pelan. “ya… biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Sudahlah…”
“aaaa… aku tahu kau berbohong…ayolah, ceritakan padaku Junsu… ceritakan… “, yoochun menatap junsu. “ceritakaaaannn…” kali ini puppy-eyes nya keluar.
“aihhh… puppy-eyes mu itu…”, Junsu memukul lembut pipi Yoochun.
Yoochun tersenyum kecil. “heu… apa yang terjadi pada kalian kemarin?”
Junsu menggeleng pelan, enggan bercerita. Tapi Yoochun terus menatapnya lekat.
“a kiss?”
Junsu memukul kepala Yoochun. “nne.. kau ini!!!”
Yoochun tertawa senang, semakin penasaran. “emmm… kau mengatakan padanya bahwa kau mencintainya?”
Junsu menggeleng, lalu tertawa. “kau kan tahu… dia adik kecilku”
“dia gadis yang kau anggap sebagai adik kecilmu. Bukan benar-benar adik kecilmu”
Junsu menyunggingkan senyum yang sedikit dipaksakan.
“sungguh?” Yoochun mendekatkan wajahnya ke wajah Junsu dan mengulangi perkataannya “sungguh kau tidak memberinya sebuah ciuman??”
“sungguh…”, Junsu balik menatap Yoochun “kau bisa lega sekarang, aku tidak menghianatimu sayang”.
“Bodoh!!!”, Yoochun memukul kepala Junsu yang menyeringai lebar. “atau… apa dia yang mengatakan padamu bahwa dia mencintaimu?”
Junsu tertegun. Kali ini tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya, dan tak ada satu gerakan pun yang dia lakukan untuk menjawab pertanyaan Yoochun.
Junsu diam. Sorot matanya kembali berubah, jauh lebih sedih.
“a, arasso…”. Yoochun berbisik, lalu menyenderkan badannya ke tembok. Tangannya perlahan memegang pundak Junsu. “arasso…”
***
(Junsu POV)
07:05 am
Yoona
Oppa, hari ini datanglah ke rumahku.
Arasso?
---
07:08 am
Yoona
Oppa… aku telah susah payah memasak
makanan untukmu. bolos latihan sekali
saja untukku. Ya? Kumohon… (@_@)
---
07:09 am
Yoona
Makanan yang istimewa… em, karena ada
hal yang istimewa juga yang akan
kuceritakan padamu. Sebuah rahasia…
:b
---
07:12 am
Yoona
Kau datanglah dulu! Nanti aku ceritakan
Rahasia ini padamu. Ya??
---
07:14 am
Yoona
Baik :D
Aku menunggumu oppa. Jangan lupa,
dan jangan ingkar janji!!!:)
---
---
Delete all?
---
Kutekan perlahan tombol kecil di sebelah kanan. Aku ingin melupakan semuanya… menganggap hari kemarin itu tak pernah ada dalam hidupku.
---
All messages have been deleted.
---
Tapi tak ada bedanya. Aku tetap merasa sesak. Aku benar-benar merasa bersalah padanya. Aku tahu, sikapku ini akan membuatku kehilanganmu Yoona. Tapi ini benar-benar jalan terbaik untuk kita berdua…
“Maaf…”
dan aku merasakan air mata mengalir perlahan di pipiku. Dingin, sedingin hatiku yang kini sepi. tak akan ada lagi tawa kecilmu disana Yoona. Takkan ada lagi senyum manismu disana.
“Maafkan aku…”
Aku menutup muka. Tanganku basah oleh air mata yang mengalir semakin deras. Kali ini aku benar-benar tak bisa menahannya jatuh. Ternyata kesedihan yang datang saat kita kehilangan sesuatu benar-benar terasa menyakitkan. Tapi jika aku tak mengambil jalan ini, aku akan kehilangan lebih banyak, selain kehilangan dirimu Yoona…
Aku mengambil bantal dan membenamkan wajahku di atasnya. Berharap tangisku yang semakin keras tak terdengar keluar kamar.
***
“kau mendengarnya kan? Suaranya semakin keras…”
“ya…”
“kau tidak masuk untuk melihat keadaanya?”
“dia butuh waktu untuk sendiri”
“kau tidak khawatir padanya? Sudah lama aku tak melihatnya seperti ini sejak…”
“sudahlah hyung, biarkan saja dia”
Jaejoong menatap Yoochun sebentar, lalu memandang pintu kamar di seberangnya dengan gelisah. “Yunho~ah… apa kau tidak sebaiknya masuk ke dalam? Aku benar-benar khawatir”
Yunho menggeleng pelan. “Yoochun benar, dia sedang butuh waktu untuk sendiri”
“aahhh…” Jaejoong menghela nafas panjang. “ya sudahlah, aku percaya saja pada kalian. Kuharap dia baik-baik saja di dalam sana…”
Lima menit mereka terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hening, ketika tiba-tiba pintu kamar itu terbuka.
“Hee… apa yang kalian lakukan di depan kamarku?” Junsu keluar dengan senyum kecil mengembang di wajahnya. “Melamun dengan gaya aneh seperti itu…”
Jaejoong menatap Junsu. “kau tidak bisa menyembunyikan apapun dari kami Junsu…”
Junsu menunduk. “kalian ini… bicara apa sih” suaranya bergetar. “sudahlah, aku mau keluar dulu” Junsu mengangkat wajahnya sambil tersenyum. “aku… butuh udara segar”
“aku temani ya?”, Yoochun berdiri. “aku temani kau mencari udara segar”
Junsu menggeleng. “tidak usah, terima kasih…”. Junsu menatap Yoochun dengan senyum yang sejak tadi tak pernah hilang dari wajahnya, seakan untuk menunjukan bahwa dirinya baik-baik saja. “aku… hanya ingin sendiri dulu. Ya?”
Yoochun menghela nafas dan kembali duduk, namun matanya tak lepas dari Junsu yang berjalan ke arah pintu.
Tepat ketika Junsu keluar dan pintu tertutup, Yunho memegang tangan Yoochun. “Ceritakan pada kami ada apa dengannya, atau kita takkan bisa membantunya dan akan terus melihatnya tersiksa seperti itu”
***




nice fic ><
BalasHapusak suka ceritanya
ini yoona-junsu tapi ko berasa ada yoosu momentnya ya? kekeke
mksih :))
BalasHapusbiasa, yoosu lover..
bawaannya gatel, pengen ngasih yoosu moment mulu,, heuheuu :))
keep reading ya,, ^^